OLEH SITI AFIF MUCHAYAROH, S Pd
Matematika merupakan salah satu cabang ilmu yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia, di samping itu matematika juga merupakan faktor pendukung dalam laju perkembangan dan persaingan di berbagai bidang. Matematika lahir karena dorongan kebutuhan manusia, dengan bantuan matematika, banyak peristiwa atau kejadian alam semesta ini dapat dipelajari.
Sebagai ilmu dasar, matematika dewasa ini telah berkembang amat pesat, baik materi maupun kegunaannya, sehingga dalam perkembangannya atau pembelajarannya di sekolah harus memperhatikan perkembangan – perkembangannya, baik masa lalu, masa sekarang maupun kemungkinan – kemungkinan untuk masa depan. Namun hal itu kurang mendapat dukungan, baik dari segi kurikulum, sarana dan prasarana, guru, siswa dan metode belajar. Sehingga masih banyak sekolah–sekolah masih rendah hasil belajarnya, terutama pada mata pelajaran matematika.
Seperti halnya pada hasil belajar matematika siswa kelas XII MIPA 2 MAN 5 Bojonegoro yang masih tergolong rendah, ini dapat dilihat dari hasil ulangan harian yang diperolehnya. Dari 40 siswa yang nilainya lebih dari 6,5 hanya berkisar 10 – 15 siswa.
Masih rendahnya hasil belajar matematika di MAN Padangan diakibatkan oleh beberapa faktor antara lain :
Untuk itu perlunya penggunaan suatu model pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa yaitu dengan menerapkan pembelajaran berbasis masalah dengan pendayagunaan media (alat bantu ajar).
Dalam hal ini pembelajaran berbasis masalah bukanlah sekedar pembelajaran yang dipenuhi dengan latihan-latihan saja, tetapi dalam pembelajaran berbasis masalah siswa dihadapkan dengan permasalahan yang membangkitkan rasa keingintahuan untuk melakukan penyelidikan sehingga dapat menemukan sendiri jawabannya, dan mengemukakan hasilnya pada orang lain. Dalam melakukan penyelidikan sering dilakukan kerja sama dengan temannya.
Selain itu pembelajaran berbasis masalah ini bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai suatu yang harus dipelajari siswa untuk melatih dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah, serta mendapatkan pengetahuan dan konsep penting.
Guru dalam pembelajaran berbasis masalah berperan sebagai penyaji masalah, penanya, mengadakan dialog, membantu menemukan masalah dan memberikan fasilitas penelitian. Selain itu, guru menyiapkan dukungan dan dorongan yang dapat meningkatkan pertumbuhan inkuiri dan intelektual siswa. Dan dalam hal ini guru berperan sebagai pemberi rangsangan, pembimbing kegiatan siswa dan penentu arah belajar siswa.
Dalam artikel ini kita akan membahas masalah, apakah pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa MAN 5 Bojonegoro
Pemecahan masalah yang diajukan dilaksanakan dalam 5 tahap, yaitu :
Pembelajaran Berbasis Masalah adalah pembelajaran dengan ciri utama meliputi pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan pada keterkaitan antar disiplin, penyelidikan autentik, kerja sama, dan menghasilkan karya atau hasil peragaan (Ismail, 2002:2).
Sedangkan pembelajaran berbasis masalah yang dimaksud di sini adalah suatu pembelajaran di mana guru menyajikan permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, dengan tahapan: orientasi siswa pada masalah, mengorganisasikan siswa untuk belajar, membimbing penyelidikan individual atau kelompok, mengembangkan atau menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Penjelasan ini diharapkan memberikan manfaat yang luas pada banyak pihak antara lain sebagai berikut.
Membahas pengertian hasil belajar tidak lepas dari belajar. Para ahli psikologi dan pendidikan mengemukakan rumusan yang berlainnan tentang belajar sesuai dengan keahlian bidang masing-masing.
James O Whittaker (dalam Djamarah, 2002: 12), misalnya, merumuskan belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.
Cronbach (dalam Djamarah, 2002: 13) berpendapat bahwa learning is shown by change in behavior as a result of experience
Belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Slameto (dalam Djamarah, 2002: 13) juga merumuskan pengertian tentang belajar. Menurutnya belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Dari beberapa pendapat para ahli tentang pengertian belajar yang dikemukakan di atas dapat dipahami bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa dan raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor. Perlu diingat bahwa belajar merupakan peristwa yang terjadi secara sadar dan sengaja.
Pengertian hasil menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah apa yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan dan sebagainya).
Dalam hal tersebut hasil merupakan apa yang telah dicapai dari suatu penilaian kegiatan yang dinyatakan dalam bentuk kualitatif maupun kuantitatif. Penilaian kualitatif dinyatakan dengan huruf, sedangkan penilaian kuantitatif dinyatakan dengan angka yang mencerminkan hasil dari suatu pencapaian nilai pada periode tertentu.
Maksud hasil belajar di atas adalah taraf pencapaian suatu penilaian dalam kegiatan yang telah dicapai oleh siswa setelah proses belajar mengajar.Pencapaian yang bisa di gunakan dapat dbedakan beberapa tahap:
A. Tahap Perencanaan
B. Tahap Pelaksanaan
C. Tahap Refleksi
Setelah melaksanakan pengamatan atas tindakan pembelajaran di dalam kelas, selanjutnya diadakan rerleksi dari tindakan yang telah dilakukan. Pembahasan hasil ini didasarkan atas hasil pengamatan yang dilanjutkan dengan refleksi pengamatan pada setiap siklus tindakan. Pengelolaan pembelajaran matematika berbasis masalah belum dilaksanakan dengan baik karena kegiatan ini merupakan kegiatan yang baru bagi guru. Pembelajaran berbasis masalah yang didahului dengan penjelasan oleh guru, pengajuan masalah oleh guru, pembentukan kelompok berdasarkan teman 2 meja, dan tiap dua kelompok memperoleh permasalahan yang sama, serta penyajian hasil diskusi kelompok di depan kelas merupakan salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa sehingga perlu diterapkan di sekolah menengah umum.Terima kasih.